antara diagnosis, kepentingan klinik dan keinginan pasien

antara diagnosis, kepentingan klinik dan keinginan pasien.

mungkin gak ya di antara ketiganya terjadi simbiosis mutualisme?suatu keadaan dimana dokter hanya memberikan obat atas indikasi yang jelas, berdasarkan diagnosis yang telah ditegakkan. sementara itu klinik tetap diuntungkan dengan obat yang diresepkan tadi dan pasien yang biasanya mengatakan," obatnya yang bagus ya, dok!" mendapatkan keinginannya.

yes, it can.

ketika seorang pasien datang karena sakit yang dideritanya dan mengharapkan dokter bisa memberikan obat yang baik, kemudian dokter meresepkan obat yang baik tersebut atas indikasi yg jelas sehingga klinik bisa diuntungkan dan pada akhirnya everybody's happy!

tp hal ini bisa rusak. hancur lebur jika sang pasien merupakan peserta asuransi bagi masyarakat miskin. masalahnya terletak pada tanggungan asuransi yang jumlahnya kecil sehingga menyulitkan dokter memberikan obat dengan jenis yang sesuai dan jumlah yang cukup.

hal lain yg bisa merusak adalah pihak klinik yg kadang bisa sangat demanding. karena menginginkan obatnya laku, maka klinik memnta dokter untuk meresepkan obat2an yg mahal, yg tidak diperlukan atau dalam sediaan terpisah. sementara itu, pasien kadang merasa penyakitnya akan lebih cepat sembuh bila meminum jenis obat yg lebih byk.

jadi, ya hubungan segitiga (segiempat klo ditambah asuransi) di atas bisa menjadi hubungan yg saling menguntungkan asal ada kerjasama dan pengertian dari semuanya. yg pertama dari dokter, pemberian obat atas diagnosis yg telah ditegakkan dgn jenis dan jumlah yg sesuai sudah merupakan hak dan kewajiban dokter. namun, polifarmasi kerap terjadi karena dokter (dan pasien!) menganggap bhw semakin byk obat yg diminum maka lebih baik. pasien sendiri kadang tersugesti bhw semakin byk obat yg diminum maka akan lebih cepat sembuh. selain itu kurangnya pengetahuan dokter menyebabkan dokter meresepkan obat berlebihan yg bekerja dgn cara yg sama (kadang memang diperlukan lebih dari satu macam obat untuk satu gejala yg bekerja dgn cara yg berbeda). ada juga jenis dokter yg meresepkan antibiotik untuk gejala2 penyakit yg diakibatkan oleh infeksi virus. kemudian ada pihak klinik yg kadang meminta dokter untuk meresepkan multivitamin atau suplemen bagi pasien.
dan terakhir seperti yg sudah dijelaskan di atas, pihak asuransi. tanggungan asuransi besarnya beragam namun yg kadang menyulitkan dokter adalah asuransi kesehatan bagi masyarakat miskin. pengobatan yg ditanggung besarnya kecil, jasa dokterpun lebih rendah dari asuransi kebanyakan. yg menjadi masalah besar adalah bhw pada byk keadaan tanggungan tersebut tidak dapat menutupi biaya obat yg harus ditebus. dokter kadang harus mengurangi jenis dan jumlah obat serta hanya meresepkan obat untuk mengurangi gejala penyakit yg benar2 mengganggu.

Comments

Popular Posts