about tweeting



a fellow blogger asked me once, when we were chatting through the internet, if i had a twitter account.

i said no. i don't have a twitter account.

about one month later, we met again on the internet. he asked for my twitter account and i said, one more time, i don't have one.

dan sekarang (ceritanya bilingual) beberapa bulan setelah hal tersebut, seorang teman sejahat mengajak saya untuk membuat akun twitter. dan hampir secara spontan keluarlah jawaban yang selama ini saya cari tiap kali pertanyaaan itu muncul. jawaban itu adalah bahwa isi pikiran saya tidak dapat dipadatkan ke dalam 100an karakter. pikiran saya terlalu luas, rumit, bercabang dan intricate untuk bisa dimampatkan ke dalam sebuah tweet. menurut saya membuat akun twitter sama dengan membiarkan diri dan pikiran saya terkerdilkan (halah bahasanya lebay).

sebelumnya saya sependapat sama abang satu ini. dia berhenti tweeting setelah satu bulan. dia bilang," "I just don't get it I'm afraid. I'm sure it's fun as a networking device for teenagers but there's something a bit undignified about adults using it. Particularly celebrities who seem to be showing off by talking to each other in public." menurutnya kalo dia mo ngasih tau temen-temennya kalo dia lagi makan, minum ato bobo dia tinggal sms aja. terus dia bilang karena dia gak butuh temen virtual baru, jadi kayaknya percuma untuk jujur (mengenai isi tweeting-nya). memang awalnya saya berpikir begitu juga tapi kemudian tiba-tiba nyadar kalo isi pikiran saya terlalu luas untuk bisa dipadatkan ke dalam 100an karakter.

so let's not tweet! hehehe........

Comments

  1. Dan teman blogger yang km maksud itu aku kan? Hehehe tp aku mulai merasa kamu benar. Tweeting itu addictive dan.... untuk kasus saya, mengerdilkan. Makanya saya mulai revive blog saya lg dan mengurangi tweeting.

    ReplyDelete
  2. @arema: blog yang mana? ada rumah baru lagi?

    ReplyDelete
  3. Blog yg lama dok, node-b.blogspot.com

    ReplyDelete

Post a Comment

komentar gak jelas

Popular Posts