from bench to bed-side

setelah mengikuti sebuah kursus dua-hari akhir minggu lalu, saya menyadari sesuatu yang sebenarnya bukan hal yang baru: seorang dokter yang hebat datang dari dokter yang selalu belajar dan berlatih secara kontinyu. dunia kedokteran merupakan salah satu bidang yang terus berkembang sesuai perkembangan zaman sehingga sepanjang usianya, secara moral, seorang dokter diwajibkan untuk terus-menerus memperbarui ilmu dan keterampilan yang dimiliki.

sebenarnya apa yang dimiliki seorang dokter hampir pasti bukan sebuah otomatisasi tapi merupakan hasil dari berlatih dan belajar secara berkelanjutan. hal inilah yang membuat seorang dokter bisa menjadi begitu hebat dalam mendiagnosis dan mengobati pasien2nya.

tentu saja ilmu dan keterampilan yang dimiliki berasal dari kuliah, textbook dan sumber2 lain yang dipercaya dan akurat yang disempurnakan dengan mengaplikasikannya di klinik. so it's from bench to bedside. tidak ada, sepanjang pengetahuan saya, seorang dokter yang secara instan bisa langsung hebat dalam mengobati penyakit dengan ilmu yang dipelajarinya tanpa menyempurnakannya dengan melatihnya pada pasien2 yang ditemuinya.

namun dalam pendidikan kedokteran sejak dulu selalu ada pertentangan antara memberikan pelayanan yang terbaik kepada pasien dengan kebutuhan untuk menciptakan dokter yang handal. kenapa saya mengatakan ini? karena pasien merupakan 'guru' terbaik seorang calon dokter (dan dokter tentunya), namun di lain pihak para pasien yang dirawat berhak mendapatkan pelayanan yang paling baik yang bisa mereka dapatkan.

atul gawande menyebutkan dalam bukunya 'komplikasi' bahwa hal ini memang kenyataan yang tidak mengenakkan. secara etika, pasien memang berhak untuk mendapatkan layanan yang terbaik di atas tujuan mendidik para calon dokter. disebutkan lagi bahwa kita menginginkan layanan yang sempurna tanpa latihan. tetapi, setiap orang akan menghadapi bahaya di masa yang akan datang bila tidak ada seorangpun dapat dilatih (dengan menggunakan pasien sebagai medianya). oleh karena itu, pembelajaran dilakukan secara sembunyi-sembunyi, di balik kain penutup steril di bawah pembiusan, dan dengan bahasa rahasia penuh isyarat.

secara pribadi, saya baru dapat mengenali dengan baik seorang anak dengan gejala morbili setelah menghadapi sekian banyak pasien morbili hingga pada akhirnya, sekarang, saya bisa mengetahui seorang anak yang datang dengan gejala batuk-pilek apakah dia menderita morbili atau hanya infeksi saluran napas biasa. ini terjadi karena saya telah belajar dari pasien2 sebelumnya yang datang dengan gejala yang mirip dan kemudian berkembang menjadi morbili.

hal inilah yang tercetus di benak saya ketika mengikuti kursus EKG kemarin. saya merasa--dan perasaan saya ini sepertinya tidak salah--bahwa saya akan mahir membaca EKG setelah saya 'berlatih' dengan puluhan--bahkan mungkin ratusan--rekaman jantung pasien. hal ini memang secara langsung tidak menyakiti pasien, tapi mungkin dapat menambah tagihan yang harus dibayar pasien sehingga pasien tidak mendapatkan layanan terbaik yang bisa didapatkan. tapi sekali lagi, pasien merupakan guru yang paling baik bagi seorang dokter, sehingga rasa tidak enak yang dirasakan harus dikesampingkan untuk bisa menjadi dokter yang handal nantinya.

bekasi, 210211

Comments

  1. teruslah belajar bro. semoga kamu semakin hari semakin jadi dokter yang handal tapi tetap humble...

    ReplyDelete
  2. judulnya sungguh menginspirasi mas.... ^___^
    dan aku pun berimajinasi dengan judul itu, betapa indah andai kehangatan dari judul itu benar2 ada...
    jika kami-kami ini terbaring dalam pembaringan menyambung nafas, mungkin yang kami perlukan bukan kepanikan dan kedinginan senyum sapa palsu.... kami ingikan kehangatan yang benar2 terasa disisi kami berbaring... dan kami sangat merindukan ia mampu tersenyum bersama senyum yang kami masih mampu itu...
    ^___^

    salam hangat yah.... mampirlah tengok sebuah karya sederhana yang aku punya,,, selalu ingin bisa berbagi di sana . meski tanpa arti jika tanpa jiwa yang datang dan pergi ^_^

    http://wiedewriter.blogspot.com/2011/02/perih-ada-bersama-kenyataan.html

    ReplyDelete
  3. @farrel: thank you, bro! i'm trying to keep being humble :)
    @wiede: i'm always trying to be as real as I could be honey! tapi kadang2 saya--kami--diharuskan memasang senyum manis. karena walau selelah apapun, kami harus menunaikan tugas kami. but, I assure you that everything we do, we do it sincerely--without any falcity :)

    ReplyDelete
  4. nice post bro...di tunggu postingan lainya

    ReplyDelete

Post a Comment

komentar gak jelas

Popular Posts