Long Journey to Long Bagun




Pertengahan mei kemarin saya bertanya pada diri sendiri,"Kapan ya ada yang ngajak jalan-jalan lagi?" And what I meant with jalan-jalan adalah perjalanan ke tempat yang jauh, terpencil dan eksotis dengan tujuan utama mengabdi kepada nusa dan bangsa tanpa atau dengan hanya mengeluarkan biaya se-sedikit mungkin (baca: baksos) sambil menikmati keindahan alam Indonesia berikut ragam budayanya. For the zillionth times, my prayer was answered.

Seorang senior meminta saya untuk bergabung sebagai tim medis pada kegiatan operasi TNI di pedalaman Kalimatan. dan seperti yang pernah terjadi waktu saya ditawari baksos ke Manokwari dan Mentawai, I said yes almost instantly. 

Felt unreal, tau-tau pada selasa siang, 29 Mei 2012 saya sudah berada di Balikpapan bersama 3 dokter lainnya--1 senior saya, 1 junior saya, 1 dokter kopasus--dan seorang dokumentator. Rombongan kecil kami langsung menuju Samarinda dengan mobil rental. on the way, I found out that Balikpapan is a hill-y city, just like San Fransisco. *like I've been there* 

At first, saya gak benar-benar tau kita sebenarnya mau kemana, saya baru tahu kemudian bahwa TKP berada di kabupaten Kutai Barat, right in the heart of Borneo. Kami sudah di jalan selama 6 jam dan belum ada tanda-tanda bahwa kami akan tiba di tujuan. Outside, the sun has set a few hours ago. We've gone through a no man's land--I see no settlement on the bank of the road. So it's only us and the darkness. 

Beberapa kali kami melintasi kawasan pemukiman. Reminds me a lot of the road in Aceh Selatan: dark houses, tall grasses and noone to see. Many times we jumped up and down inside the car because of the heavily damaged road.

At approximately 10 pm, we reached Muara Tahu, few hours--katanya--before Sendawar, the capital of Kutai Barat. A small place where we took a break for a while, stretched our legs, fill our stomachs and emptied our bladders. 

It was almost 1 am when we--alhamdulillah--finally reached Sendawar. After waiting for several minutes, we were escorted to the suites where we sleep for the night. 

Tired as hell, I fell into sleep in short time. Terbangun pagi hari dengan badan pegal2 dan perut sakit, saya segera mandi untuk membersihkan diri dan menyegarkan badan. Setelah sarapan, kami mengunjungi museum etnografi sendawar yang terletak di samping mess.



After that: nothing. 

Saya masuk ke kamar dan kembali tertidur, kemudian terbangun, lalu tertidur lagi hingga akhirnya terbangun dan memutuskan untuk tidak tidur lagi. rencananya kami berangkat dengan speedboat siang ini going further upstream Mahakam. *really like the sound of it* 

Few minutes past noon, after emptying the dishes and waiting a while, we're off with speedboat together with the orang-orang dinas kesehatan going further inside the mystic Mahakam. 


Kami akhirnya tiba di Long Bagun, sekitar 3 jam perjalanan dengan speed boat dari Kering di tepian Mahakam. Kami berpisah dengan tim dari dinkes dan dibawa menuju kamp tentara di seberang sungai. Kami ditempatkan di satu ruangan, yang sepertinya bekas TK, yang dipisahkan dinding kayu: laki2 di satu sisi, sementara junior saya yang perempuan ditempatkan bersama beberapa ibu-ibu peneliti tanaman di sebuah rumah. guess what: we have chicken in our room! lol 

2 hari di jalan bikin badan rontok. akibatnya: kami berempat tertidur pulas hingga pagi, eh salah, ada beberapa saat dimana alarm yang salah setting menyala beberapa waktu hingga membuat terjaga, walaupun pada akhirnya saya tertidur juga. 

Hari yang ditunggu2 tiba juga, bagi masyarakat dan bagi kami yang dua hari terakhir berada di jalan. 

Seperti baksos2 pada umumnya, baksos kali ini dimulai dengan riuh dan ramai, petugas berteriak-teriak memanggil pasien, anak2 menangis ketika diperiksa, orang2 berdesakan menunggu obatnya disiapkan. 


Dan berakhir perlahan ketika aliran pasien berkurang hingga akhirnya habis. Para dokter kemudian bercengkrama, saling menceritakan kejadian lucu, unik atau mungkin menyebalkan ketika tadi baksos berlangsung, sementara staf yang lain bergegas membereskan perlengkapan serta obat yang tadi digunakan.

Sampai akhirnya semuanya betul2 selesai, kemudian kami saling berjabat tangan, mengucapkan terima kasih dan semoga diberi kesempatan untuk berjumpa kembali. 

Never thought in a million years that I would be there, in Long Bagun Kutai Barat, on the bank of Mahakam, far faraway from the hustle bustle of a big city.

alhamdulillah.....

Kami kemudian memulai perjalanan pulang keesokan harinya. The journey somehow felt easier and less stressful. Tentu saja di Balikpapan gak lupa mampir belanja2 dan makan2 :)
 


I said to my junior that I talked into joining this baksos that she (we) shouldn't think of how much money we're going to get. Because if we put humanity above all, we'll end up getting more than just money.

Comments

  1. untuk orang yang kerja 9 to 5 di depan komputer di meja kantor di dalam gedung bertingkat di Jakarta, kesempatan kayak begini yang juga diimpikan sih. kesempatan bisa sekali-kali keluar, pengalaman baru, sambil kerja juga, plus ada manfaat nyatanya juga. lucky you. :)

    ReplyDelete
  2. aduh enak ya kalo bisa membantu orang lain sambil jalan2 ke tempat yang eksotis. :D
    jadi inget slogan lucu di depan sebuah bar yang pernah saya liat di internet. kira2 kata2nya:
    Others make money. We make friends. WE ARE RICHER.

    ReplyDelete
  3. Semoga beruntung untuk tawaran jalan2 berikutnya! Hehe

    ReplyDelete
  4. Wuahahahaha so do I just getaway from this loony town!

    Have fun, adrenaline, adanya bukan distress atau biasa disebut stress..adanya stress yang dicari-cari alias eustress!

    Lama-lama saya penasaran sama Kalimantan, apa sih isinya selain yang ada di post ini ??

    ReplyDelete
  5. hmm pengen deh punya minat buat ngelilingin daerah daerah di Indonesia. selama ini kalo denger tempat wisata lokal rasanya langsung gimanaaa gitu. males, langsung kebayang kalo tempatnya kumuh, bikin gak tertarik gitu ._.

    ReplyDelete

Post a Comment

komentar gak jelas

Popular Posts