the HIV patient

just like the clouds my eyes will do the same......
16 juli 2012 seorang ibu datang membawa anaknya ke rumah sakit tempat saya bertugas. anaknya seorang perempuan, pertengahan 20an. begitu melihat anaknya yang sudah terbaring di tempat tidur di UGD, almost instantly hati saya berkata,"Ya Allah!" karena kondisi sang anak yang begitu menyedihkan. perempuan itu begitu kurus, wajahnya pucat, di sekitar bibirnya terdapat bercak berwarna putih dan pandangannya kosong. saya rasa, dia tidak tahu dimana dia berada saat itu.

you know, when you've been a doctor for quite some time, you'll know what your patient has, sometimes from as simple as his breath. kali ini, saya merasa cukup yakin--walaupun baru melihat fisik si penderita--bahwa dia mengidap HIV/AIDS. that's why, when i saw her i said,"ya Allah!" because it breaks my heart to see how a young girl lying helplessly when she's supposed to be out there living her beautiful life.

fast forward beberapa hari sesudahnya, perempuan tersebut terbukti positif HIV. walaupun keadaannya tidak bisa dibilang bagus karena dia juga menderita infeksi oportunistik akibat kekebalan tubuh yang sangat rendah, kami tetap merawatnya semampu kami. tetap memberikan semangat kepada ibu dan adiknya bahwa penderita HIV, dengan pengobatan teratur, dapat hidup normal seperti orang lain. but God decided differently. pasien ini meninggal tanggal 22 juli, 6 hari setelah dirawat di rumah sakit kami. i feel that in a way, she is being freed from her mortal body, away from her decaying flesh. but on the other hand, there's the mourning family that loses her so much. 

selama bulan juli kemarin, rumah sakit kami merawat 5 penderita dengan HIV positif. 4 di antaranya berumur di bawah 30 tahun. beberapa sudah menikah dan bahkan ada yang sudah dikaruniai anak. para HIV positif ini sukses membuat saya teringat kembali pada seseorang yang saya cintai amat sangat, yang hidupnya direnggut penyakit ini. 

I feel sorry for them, for being so young and so sick. for not being able to accomplish what they've dreamt of. for not being able to chase their dreams. for not being able to live the life they imagine. but most of all, for not being there for me through this hard world.

*yes the last paragraph was meant for you, my loved one. may you rest in peace up there!*

Comments

  1. gak kebayang kalo aku jadi dokter... harus ngeliat pasien gitu, bisa nangis tiap hari kali. i'm sorry for all the loses, warm greetings for her family :')

    ReplyDelete
  2. Remind me at developmental psychology class. Kita belajar..kematian dan perintilannya. Semoga keluarga dan pak dokter memiliki resiliensi (kemampuan untuk menerima keadaan dan lekas kembali beraktifitas sehari-hari) yang baik. Sebagai calon psikolog with personal touch and loony attitude aku memiliki satu sikap terhadap kematian : Tuhan hanya mengubah hidup manusia dari fana ke abadi, we should happy for that instead cry and mourn.

    ReplyDelete

Post a Comment

komentar gak jelas

Popular Posts