Syria Humanitarian Mission Series: the first shift


konflik suriah merupakan sesuatu yang asing dan jauh ketika saya masih berada di tanah air hingga sebelum keberangkatan ke jordan. tapi di sini, sekarang, apa yang ada di pikiran saya berubah 180 derajat. di sini saya saksikan langsung laki-laki muda, anak-anak, orang tua dengan kaki atau tangan terpenggal, ketika melihat sendiri lubang-lubang peluru di tubuh belia mereka, ketika mendengar sendiri ibu-ibu tua yang meratapi anak-anaknya yang meninggal dunia.

those realities hit me like cold water to the head.

saya dapat kesempatan membantu--kalau bukan merepotkan--pertama kali di sebuah rumah sakit di daerah Al Dulayl pada 18 Februari 2013 ketika musim dingin masih terasa di jazirah Syam. rumah sakit ini diprioritaskan untuk menangani para korban konflik suriah yang makin hari makin bertambah.

bangsal dipenuhi orang-orang muda dengan kaki-tangan yang patah atau buntung, dada yang berlubang dan hati yang terkoyak. sayangnya penambahan jumlah korban tidak dibarengi peningkatan jumlah tenaga medis sehingga para dokter, perawat dan paramedis yang ada kewalahan menangani korban konflik yang hingga kini belum ada tanda akan selesai.

di sinilah saya bersama ACT mencoba membantu--lend a hand--berharap bisa sedikit meringankan beban para korban ini. namun karena terbatasnya bahasa arab yang kami kuasai, ditambah legal issue mengenai praktek dokter asing di sini, akhirnya kami bersama dokter jaga yang ada bersama-sama tangani pasien yang baru datang, mendiagnosis pasien kemudian mendiskusikan rencana terapi. selain itu juga melakukan tindakan ringan seperti mengganti perban dan merawat luka. serta satu hal yang kelihatan sederhana tapi bermakna: berbicara dengan mereka. ventilasi merupakan salah satu cara untuk mengurangi kegundahan hati yang mereka rasakan. membiarkan mereka mengeluarkan apa yang selama ini mereka pendam dalam hati.

saya akui language barrier yang kami alami memang agak membuat kami kesulitan dalam berinteraksi sehingga tampaknya beberapa giliran jaga kedepan akan penuh perjuangan. tapi saya yakin kekakuan ini akan mencair lama-kelamaan karena kemanusiaan adalah bahasa universal. so it doesn't matter what you speak, what you believe in or where you come from, humanity is a language all of us can understand.

i'm here, i care. what about you?

saya di sini dan peduli. bagaimana dengan kamu?

Comments

Popular Posts