Our Changing Capital

photo was taken from here

Saya dibesarkan di sebuah daerah di jakarta yang disebut utan kayu. Seperti daerah lain di Jakarta, utan kayu di tahun 80an merupakan daerah yang asri. Tipikal pemukiman di Jakarta: ada gang-gang kecil dengan rumah berdempetan, ada tanah kosong yang digunakan sebagai lapangan permainan, ada rumah yang besar dengan halaman yang cukup luas, ada pohon buah-buahan seperti jambu, belimbing, dll. Sejak SD hingga SMA saya bersekolah masih di kecamatan yang sama sehingga daerah jajahan saya di situ-situ aja. Pertengahan 80an dimulailah konstruksi jalan layang tol pertama di indonesia: Cawang-Tanjung Priok. Tiap akan pergi ke pasar pagi Rawamangun bersama ibu saya dengan bajaj, saya akan selalu lewat di bawah konstruksi beton tersebut. Bagi saya hal itu cukup menyeramkan karena saya membayangkan jika beton besar tersebut jatuh ke atas bajaj yang saya tumpangi, maka mejret-lah saya.

Pada tahun 1999, saya hijrah ke Makassar untuk melanjutkan pendidikan, meninggalkan rumah, Jakarta dan semua kenangan di dalamnya. Medio 2001 saya kembali untuk berlibur. Meskipun cuma 2 tahun saya meninggalkan ibukota kala itu, tapi perubahannya pesat sekali. Jalan makin ramai, makin padat penduduk, bangunan baru bermunculan, serta gang dan jalan yang saya kenal dengan baik terasa menjadi kecil dan sempit. It's amazing how 2 years outside your hometown feels like when you return. Saya sempat kaget ketika sedang berkendara (baca: naik metro mini) di jalan pramuka, tiba-tiba jalan menukik ke bawah. Rupanya ada underpass baru yang memotong di bawah rel kereta yang melintas jalan pramuka tersebut. Something I've never imagined before.

Dan sekarang, 2016. Jakarta tidak seperti dulu lagi. bukan seperti Jakarta yang saya kenal waktu kecil. Bahkan tidak seperti 5 tahun lalu. Perubahan ini tentu saja membawa dampak bukan cuma bagi manusia yang tinggal dan beraktivitas di dalamnya, tetapi juga lingkungannya. Untuk menjadi ibukota yang bisa menampung semua penduduknya, diperlukan perubahan radikal di berbagai sisi kehidupan: ekonomi, lingkungan, kesehatan, pendidikan, transportasi. Pemerintah DKI Jakarta sebagai pemangku kebijakan di ibukota harus berani mengambil langkah-langkah yang tegas dalam mewujudkan hal tersebut.
 
Saya bukan ahli tata kota, tapi saya yakin bahwa daya dukung air dan tanah di Jakarta tidak lagi memadai bagi banyak orang untuk tetap dapat hidup di atasnya dengan layak. sungai-sungai bertambah kotor, air bersih sulit didapat, banyak orang yang hidup di bantaran sungai, pinggir rel kereta ataupun lahan kosong milik pemerintah.

"Kita sekarang tidak bisa hidup seperti halnya orang tua atau kakek nenek kita dahulu."

Mengambil satu topik besar yang kerap menjadi berita utama di media yaitu penggusuran (atau menurut istilah pemerintah: relokasi). Jika ditanya apa ini diperlukan. Secara pribadi saya akan menjawab ya,  penggusuran, relokasi atau apapun namanya perlu dilakukan di berbagai wilayah di Jakarta agar kota ini menjadi lebih manusiawi dan bermartabat. Tapi jika ditanya apakah proses relokasi ini bisa dilakukan lebih baik lagi. Jawaban saya bisa banget. Proses ini bisa dilakukan dengan lebih tertib, lebih teratur, lebih beradab lagi, karena bagaimanapun mereka yang direlokasi adalah manusia yang punya martabat dan harga diri dan harus dihormati.   

To end this article, tanpa mengurangi rasa hormat kepada penduduk Jakarta yang sudah berpuluh bahkan beratus tahun tinggal di tempat kediaman atau di lingkungannya, saya berpendapat bahwa kita sekarang tidak bisa hidup seperti halnya orang tua atau kakek nenek kita dahulu. Kita harus bersedia melakukan perubahan, yang mungkin radikal, untuk Jakarta yang lebih baik lagi.

Comments

Popular Posts