Rasio Dokter:Pasien vs Efektifitas Layanan Medis

Sumber daya manusia yang paling kecil jumlahnya di rumah sakit adalah para dokter. But despite their importance, doctors are the smallest in terms of number among other medical professionals at the hospital. Jumlah dokter terbanyak adalah pada saat dinas atau jam kerja karena pada waktu tersebut diperlukan lebih banyak dokter (dengan dibukanya pelayanan di klinik rawat jalan) serta kemungkinan terdapat dokter yang memiliki jabatan struktural.

Tersedikit kedua adalah para perawat. Biasanya seorang perawat bertanggung jawab atas 3 hingga 10 orang pasien. Kemudian ada para staf administratif dan staf struktural yang hanya ada pada pagi hari. Dan yang terbanyak adalah para penunggu pasien yang biasa saya sebut 'kelupas' atau keluarga pasien.

So you see, meskipun rumah sakit tidak bisa berjalan tanpa seorang dokter, jumlahnya paling kecil di antara populasi makhluk lain di rumah sakit.

And so, karena itulah tulisan ini tercipta. 

ini bukan di rumah sakit sih, tapi di puskesmas. but still......


Pada akhir pekan kemarin, seorang pasien yang dirawat di rumah sakit tempat saya bekerja meninggal dunia. Saya kira, secara umum, sesuatu yang wajar jika orang yang dirawat di rumah sakit kemudian meninggal. Yang tidak wajar--dan seharusnya bisa dicegah--adalah jika ini terjadi karena dokter yang merawat overwhelmed dengan pasien. Di rumah sakit kami, pada hari minggu hanya 1 orang dokter yang bekerja setiap shift-nya. Bandingkan dengan 2 orang dokter tiap shift pada hari kerja: masing-masing di instalasi gawat darurat (IGD) dan bangsal perawatan. Tentu saja yang saya bicarakan di sini adalah dokter umum. Nah, pada saat kejadian, dokter yang bersangkutan sedang menerima banyak pasien di IGD, pasien-pasien tersebut jelas butuh penanganan cepat dan tepat. Begitu mendapat kabar bahwa salah satu pasien di high care unit memburuk dokter tersebut bergegas ke sana kemudian dengan sigap memerintahkan perawat untuk memasukkan obat-obatan untuk menstabilkan sang pasien. Namun takdir berkata lain, pasien tersebut meninggal dunia setelah sebelumnya ditangani rekan sejawat saya.

Hal ini menimbulkan perhatian dan kekhawatiran yang sebelumnya sudah lama diperkirakan bakal terjadi: sangat sulit bagi seorang dokter umum untuk mengelola IGD dan bangsal perawatan seorang diri di rumah sakit kami. So it's like an impending doom waiting to happen. Dan kekhawatiran tersebut terbukti hari minggu lalu. Sejawat tersebut sedang sibuk menangani beberapa pasien sekaligus di IGD ketika mendapat panggilan dari perawat di HCU karena pasien di sana kondisinya menurun. Ketika tiba di HCU, keadaan pasien sudah sangat berat sehingga meskipun telah dilakukan usaha terbaik, pasien tersebut tidak terselamatkan. 


I don't think this ever happened in other private hospitals, karena pada umumnya rumah sakit swasta mementingkan pelayanan kepada pasien (bukannya rumah sakit pemerintah tidak mementingkan hal tersebutsehingga pelayanan medis kepada pasien merupakan top priority mereka. mereka tidak akan membiarkan dokternya keteteran dalam melayani pasien yang akibatnya akan mempengaruhi kualitas (dan efektifitas!) pelayanan medis yang diberikan. rumah sakit-rumah sakit tersebut pasti memikirkan rasio dokter:pasien, perawat:pasien dst yang ideal, proporsional tapi tetap efisien sehingga kualitas layanan medis yang diberikan dapat tetap terjaga. Jika kemudian cost membengkak, hal ini merupakan sesuatu yang memang seharusnya terjadi dan pada sektor swasta konsumen (atau dalam hal ini pasien) lah yang menanggung hal tersebut.

All I'm saying is that kualitas pelayanan medis yang baik akan tetap terjaga jika ada dedikasi yang memadai dari sumber daya yang ada.

Demikianlah cuap-cuap saya siang ini.



Comments

Popular Posts