Dalam Episode: Menjaga Integritas Profesi


Sebagai seseorang yang diajarkan sejak kecil untuk memiliki integritas terhadap apapun yang saya lakukan serta berdasarkan sumpah profesi yang saya ambil, dimana saya diharuskan memiliki integritas terhadap profesi, saya merasa jengkel dan kesal ketika ada orang lain yang meminta saya untuk melanggar integritas tersebut untuk mereka dengan alasan 'bantuan'. Case in example adalah ketika seorang ex coworker 'meminta tolong' kepada saya untuk membantu temannya yang katanya buta warna dan perlu pemeriksaan kesehatan yg menyatakan bahwa dia tidak buta warna. Waktu itu saya langsung,"Oh ow...here it goes...."

Sejak awal saya sudah tidak berniat untuk memberikan surat tersebut, tapi kemudian saya berkata untuk menyuruh rekannya tersebut untuk datang dan melakukan pemeriksaan tanpa memberikan janji apapun.

Ketika dilakukan pemeriksaan tampak jelas bahwa yang bersangkutan buta warna hijau dan merah. Hal ini menguatkan pendirian saya untuk tidak memberikan surat keterangan yang diminta. Saya jelaskan kepada yang bersangkutan bahwa kondisi yang dideritanya cukup berat dan saya tidak bisa memberikan surat keterangan bebas buta warna kepadanya. Penjelasan ini saya ulang beberapa kali namun laki-laki ini tetap meminta saya untuk membuatkan surat keterangan untuknya. Dia kemudian menambahkan bahwa hal seperti ini pernah terjadi di tempatnya bekerja pada staf yang lain, atasannya mengetahui bahwa staf tersebut buta warna, namun tetap diberikan kontrak, entah dengan surat keterangan palsu atau tidak. Karena terus-menerus didesak dengan alasan "minta tolong" saya tambahkan bahwa jika pemeriksaan kesehatan ini hanya formalitas dan yang bersangkutan akan tetap diterima sebagai karyawan, alih-alih meminta dokter membuat surat keterangan palsu, kenapa bukan pihak perusahaan saja yang meniadakan syarat tes buta warna yang diminta? 

Hal ini juga saya ulang beberapa kali. Kenapa si pemeriksa (dokter) yang diminta untuk melanggar integritasnya--sumpah dokternya, kode etik kedokterannya--dan bukan pihak perusahaan yang mengubah aturannya? Hal ini membuat saya kesal dan jengkel, namun kemudian merasa tidak enak hati kepada laki-laki tersebut.

Tapi kemudian saya berkata kepada diri saya sendiri bahwa yang saya lakukan memang pahit dan kelihatannya kejam, namun penting untuk menjaga integritas terhadap profesi saya. Jadi, saya tidak perlu merasa tidak enak kepada laki-laki tersebut.

Ini bukan merupakan satu-satunya kasus. Yang paling sering adalah ketika pasien datang berobat hanya untuk minta surat keterangan sakit. Saya tidak masalah, jika pasien benar-benar sakit dan butuh istirahat. Yang menjadi masalah adalah ketika pasien tidak benar-benar sakit, tidak memiliki keluhan yang berarti yang membuat saya perlu mengeluarkan surat tersebut. Yang paling mengesalkan pernah satu ketika seorang ibu datang untuk meminta surat keterangan sakit untuk anaknya (yang saat itu tidak ada) karena ada urusan keluarga sehingga sang anak tidak bisa masuk kerja.

How dare her? 

First of all, it is so wrong is so many ways. Second, saya tidak sekolah susah dan lama hanya agar orang-orang seperti dia bisa seenaknya datang dan minta surat keterangan sakit.

Jadi, waktu itu, tidak butuh waktu lama bagi saya untuk menaikkan suara dan menunjukkan kejengkelan saya kepada sang ibu. Si ibu pun pergi tanpa surat yang diminta.

Bagi saya mempertahankan dan menjaga integritas tidak semudah yang terlihat. Bukan karena ada sogokan dan semacamnya tapi karena perasaan tidak enak karena mengecewakan orang lain. Sejujurnya, saya tipe orang yang people pleaser. Saya akan bilang iya--ataupun tidak--jika itu menyenangkan orang lain. Tapi untuk hal yang satu ini tidak semudah itu.

Comments

Popular Posts