Rohingya Emergency Response: How It Could've Been Done Better

picture was taken from this article

Melihat timeline facebook dimana ada beberapa teman sejawat yang berangkat ke Bangladesh sebagai anggota tim dari organisasi tertentu yang memberikan bantuan darurat terhadap influx pengungsi Rohingya ke Bangladesh, saya berpikir betapa kurang terencananya bantuan yang diberikan. Sebagian besar, jika bukan semua, organisasi Indonesia yang datang ke Bangladesh memberikan bantuan dalam bentuk pelayanan kesehatan dasar. Padahal tentu saja yang dibutuhkan oleh para pengungsi lebih dari sekedar bantuan medis tetapi juga makanan, hunian, air bersih dan keamanan. Berbondong-bondong datang untuk memberikan bantuan yang sifatnya seragam serta tidak sesuai dengan kebutuhan di lapangan akan mengakibatkan berlimpahnya bantuan tersebut sehingga bisa menjadi mubazir.

Sempat terpikir, tidak adakah semacam BNPB atau seperti BRR di Aceh dulu di Bangladesh yang mengatur organisasi yang datang untuk memberikan bantuan agar tidak terjadi tumpang tindih satu sama lain.

Sepanjang pengetahuan saya, rekan-rekan yang datang bersama organisasi kemanusiaan kebanyakan memberikan pelayanan medis dasar. Organisasi lain ada yang memberikan non-food item seperti pakaian dan peralatan basic personal hygiene. Ada pula yang memberikan penyuluhan kesehatan dasar serta penyuluhan mengenai penyakit menular seperti Difteri yang sedang merebak di sana (dan di sini juga!).

Tapi itu tidak cukup. Para pengungsi ini harus mendapatkan hak-haknya sebagai manusia. Walaupun kaum Rohingya belum secara legal dikategorikan sebagai pengungsi oleh PBB, namun mereka tetap manusia yang tetap memerlukan makan-minum, tempat tinggal, air bersih, keamanan serta mereka memiliki hak untuk diperlakukan selayaknya manusia sehingga koordinasi yang lebih baik antar organisasi kemanusiaan sangat diperlukan agar bantuan yang disampaikan tidak hanya meringankan beban mereka tetapi juga menjaga martabat mereka sebagai manusia.

 

Comments

Popular Posts